Minggu, 03 April 2011

Pertumbuhan Fisik Anak dan Remaja

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Perkembangan individu berlangsung terus menerus dan tidak dapat diulang kembali. Masa remaja merupakan masa yang rentan terhadap perbuatan-perbuatan yang kurang baik diakibatkan sikap mereka yang suka mencoba-coba pada hal yang baru. Pada perkembangan fisik remaja mulai nampak terutama pada bagian organ-organ seksualnya secara fisik, pada masa remaja pula mulai pembentukan hormon-hormon seksual sudah mulai terbentuk sehingga perilaku atau tingkah lakunya banyak dipengaruhi oleh hormin tersebut.
Pertumbuhan fisik adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja.
Perubahan-perubahan ini meliputi : perubahan ukuran tubuh, perubahan proposi tubuh ,munculnya cirri-ciri kelamin yang utama primer dan ciri kelamin kedua (sekunder). Di harapkan setelah mempelajari dan membaca makalah ini,anda di harapkan dapat memahami:
1. Makna dan karakteristik pertumbuhan fisik remaja
2. Perbedaan individu dalam pertumbuhan fisik
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fisik
4. Pengaruh pertumbuhan fisik terhadap tingkah laku, dan
5. Upaya membantu pertumbuhan fisik remaja dan implikasinya dalam penyelenggaraan pendidikan
Apabila kita perhatikan dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan ukuran jasmani. Ada anak- anak yang tinggi, pendek, kurus dan gemuk dengan beranekaragam bentuknya. Nampaknya pada anak-anak tersebut secara fisik kurang segar sebagaimana harusnya, hal ini disebabkan antar lain karena berat badan tubuh.
Maka di makalah ini akan dijelaskan lebih lengkap tentang faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tentang pertumbuhan fisik ,terutama pada anak di usia remaja.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu selalu tumbuh dan berkembang sejak konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Hal ini yang membedakan anak dengan dewasa. Anak bukan dewasa kecil. Anak menunjukkan ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai dengan usianya.
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interselular, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.
Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian.
Pertumbuhan terjadi secara simultan dengan perkembangan. Berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan sistem neuromuskuler, kemampuan bicara, emosi dan sosialisasi. Kesemua fungsi tersebut berperan penting dalam kehidupan manusia yang utuh.
2. Pertumbuhan Selama Pertengahan Masa Kanak-Kanak
A. Tingkat Pertumbuhan
Pada usia anak 10 tahun baik laki-laki maupun perempuan, badannya bertambah berat kurang lebih 3,5 kg dan tingginya bertambah. Namun setelal remaja anak perempuan pada usia 12-13 berkembang lebih cepat daripada anak laki-laki. Menurut Tanner, (1973 : 35) anak berusia 7 tahun tidak akan banyak berubah sampai berusia 9 tahun, hal ini dalam keadaan normal.
Tingkat pertumbuhan anak sangat berbeda antara ras, bangsa dan tingkal sosial ekonominya. Menurut penelitian yang-dilakukan di berbagai tempat di dunia terdapat rentangan sebesar 9 inci atau 22,5 cm di antara anak-anak dalam ukuran pendek, misalnya di Asia Tenggara, Oceania, dan Amerika Selatan, sedangkan anak-anak dari Eropa Utara dan Tengah, Australia Timur, dan Amerika -Serikat pertumbuhannya lebih tinggi (Meredith, 1969). Walaupun terdapat perbedaan keturunan, pertumbuhan tersebut juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan mereka. Anak-anak yang tumbuh paling tinggi biasanya dalam hidupnya tidak mengalami kekurangan gizi atau infeksi penyakit yang merupakan masalah utama dalam kehidiipan. Di samping itu juga karena perbedaan tempat tinggal biasanya anak-anak yang tinggal. di rumah yang bagus akan Iebih matang daripada anak-anak yang-berasal dari kel’.iarga kurang marnpu serta lingkungan kurang baik dan tidak sehat
B. Nutrisi dan Pertumbuhan
Pada usia pertengahan biasanya anak-anak mempunyai nafsu makan yang bagus. Mereka banyak makan karena kegiatannya menuntut energi yang banyak, dan dalam usia ini berat badannya meningkat dua kali lipat. Untuk mendukung pertumbuhan spontan ini, anak-anak memerlukan 2.400 kalori setiap hari, 34 gram protein, dan rata-rata karbohidrat yang tinggi paling minimum harus tetap dipertahankan (E.R.Williams & Cakiendo, 1984). Kekurangan nutrisi dapat mengakibatkan pertumbuhan yang lamban, karena nutrisi tersebut hanya untuk mempertahankan hidup dan energi, sedangkan protein lebih untuk meningkatkan pertumbuhan. Apabila makanan tidak dapat mendukung kedua proses tersebut sepenuhnya maka pertumbuhannya menjadi tidak optimal.
Nutrisi juga mempunyai implikasi sosial. Anak tidak dapat bermain karena tidak mendapatkan makanan yang cukup. Pengaruh kekurangan nutrisi tersebut juga dapat berlangsung lama sekali. Anak-anak yang tidak memperoleh ekstra protein pada waktu kanak-kanak cenderung bersikap pasif, dan tergantung pada .orang dewasa. sedangkan bagi anak-anak yang meniperoleh nutrisi yang cukup mereka bersifat gembira dan Iebih bersikap sosial dengan teman bermainnya (D.E: Barrety, Radke-Yarrow, & Klein, 1982).
Dalam kaitan ini hubungan antara nutrisi dan perkembangan kognitif juga menjadi jelas. Anak-anak Afrika di Kenya yang menderita kekurangan gizi mendapat skor yang paling rendah dalam tes kemampuan verbal dan juga dalam tes metrik yang meminta anak-anak memilih satu pola yang cocok dengan pola yang lain. (Sigman, Neumann, Jansen & Bwibo, 1989). Suatu program bagi anak-anak yang orang tuanya berpenghasilan rendah pada kelas 3 -.kelas 6 mereka mendapat sarman dari sekolah di Masachusetts dan dapal meningkatkan skor mereka dalam tes kemampuan (A.F. Meyers, Sampson Weltzman, Rogers, & Keyne, 1989)
C. Kesehatan dan Kebugaran Anak
Perkembangan vaksin untuk berbagai penyakit kanak-kanak telah membuat kanak-kanak usia pertengahan selamat dalam hidupnya. Pemberian vaksinasi sangat baik bagi anak-anak usia ini daripada anak-anak yang lebili rendah usianya. Hal ini terbukti dengan adanya imunisasi di sekolah. Hal ini juga mertipakan :;uatu alasan mengapa tingkat kematian anak-anak usia sekolah tersebut paling rendah sepanjang tahun

3. Beberapa Aspek Kesehatan Dan Kebugaran Masa Kanak-Kanak
Terdapat beberapa aspek yang perlu mendapai perhatian bertalian dengan kesehatan dan kebugaran karak-kanak, yaitu:
1. Obesity
Kegemukan pada anak-anak merupakan isu utama di Amerika Serikat sejak tahun 1970-an, terutama pada anak-anak usia 6-11 tahun. Dalam suatu studi terhadap anak berusia 6 tahun sebanyak 2600 anak kulit putih, dan anak-anak di bawah usia 12 tahun yang terdaftar pada rencana pertahanan kesehatan kurang Iebih 5,5% anak usia 8-10 tahun didiagnosa sebagai kegemukan (Gortmaker, Diet?,, Sobol, & Wehler, 1987; Starfield et d.,1984). ,Apa penyebab kegomukan tersebut? Menurut hasil penelitian yang pada iimumnya sering kali bersifat korelasional, berarti balnva kita tidak dapat menarik beberapa kesimpulan berdasarkan sebab-akibat. Sekalipun demikian terdapat suatu basis yang kuat dan dapnt dipercaya bahwa kelebihan berat badan sering kali disebabkan oleh kurang berolahraga dan terlalu banyak makan. Menurut hasil penelitian anak yang diadopsi ternyata mempunyai korelasi positif dengan orang tua aslin/a, namun tidak ada korelasi sama sekali dengan orang tua yang me.igaJopsinya (A.J. Stunkard, Foeh, & Hrubec, 1986). Di samping itu lingkungan juga berpengaruh besar terhadap kegemukan, biasanya justru terdapU pada masyarakat yang sosial ekonominya kurang, terutama bagi para wanilanya. Anak gemuk biasanya kurang aktif dibandingkan dengan anak hin yang kurang gemuk dan suka menonton TV (Dietz, & Gortmaker, 1985; Kolata, 1986). Anak-anak gemuk biasanya tidak trnibuh menjadi gemuk pada muianya, namun mereka menjadi gemuk setelah dewasa. (Kolata, 1986) dan anak dewasa yang gemuk menghadapi berbagai risiko dan masalah kesehatan, misalnya tekanan darah, diabetes dan jantung. Sekalipun demikian anak yang gemuk masih. dapat dipelihara dengan baik, antara lain diubah cara makamiya, latihan olah raga secara teratur dengan melibatkan orang tuanya (L H.Epatein & Wing, 1987). Sebaiknya orang tua jangan membiasakan- memberi hadiah makanan yang manis-manis terhadap anaknya yang berperilaku baik, sebaiknya menyediakan makanan kecil yang beraneka .ragam dan berhenti membelikan makanan yang banyak mengandung kalori tinggi atau berlebihan.
2. Kondisi Medis Pada Masa Kanak-Kanak
Pada umumnya semua anak sering mendapat sakit, namun- peryakit tersebut berlangsung singkat. Selama studi 6 tahun disimpulkan pada umumnya anak-anak mendapat sakit yang akut dalam waktu singkat dengan berbagai kondisi medis, biasanya kena virus atau flu, dan hanya satu dari 9 anak yang menderita penyakit kronis seperti migraine (kepala pusing) atau penglihatan jarak dekat. Terdapat 80% anak yang sering dirawat karena luka. Di samping itu juga banyak terdapat penyakit seperti sakit tenggorokan, radang tenggorokan, infeksi telinga, dan gangguan emosional yang sering kali menjadi bertambah pada waktu anak mendekati usia puber (Starfield et al, 1984).
3. Penglihatan
Pada anak usia sekolah, penglihatannya lebih tajam daripada waktu-waktu sebelumn’ya. Anak-anak yang berusia di bawah 6 tahun cenderung memiliki penglihatan jarak jauh, sebab mnta mereka belum mating (matured) dan dibentuk secara berbeda daripada orang dewasa. Namun setelah usia tersebut, maka mereka bukan hanya lebih matang. tetapi juga dapat memfokuskan penglihatan lebih baik. Sekalipun demikian penglihatan a.iak dari kalangan kurang mampu tidak dapat bcrkembang secara normal. Sepuluh persen dari anak berusia 6 tahun mengalami kurang penglihatan, dan tujuh person mengalami gangguan pandangan jarak jauh; dan kondisi semacam ini meningkat menjadi 17% pada usia 1 1 tahun (U.S Department of Health Education, and Welfare, USDHEW, 1976).
4. Kesehatan Gigi
Pada usia 6 tahun anak mengalami tanggal gigir.ya yang pertama kali, yang selanjutnya diganti dengan gigi yang tetap setiap tahun sebanyak empat gigi untuk tahun kelima berikutnya. Lebih kurang setengah dari anak usia 5-17 tahun di AS tidak me’miliki gigi rusak (U.S Department of Health ana Human Services USD/IFfS, 1981, 1988). Dewasa ini di Amerika terdapat 36% lebih sedikit mengalami gangguan gigi daripaJa hasil penelitian pada tahun 1980-an, di mana teidapat rata-rata hampir 5 kemsakan atau kehilangan gigi atau giginya tanggal (USDHHS, 1981,1988).
5. Kebugaran Anak
Pada dewasa ini latihan fisik bagi anak-anak sangat baik jika dibandingkan dengan tahun 1960-an. Jantung dan paru-pam mereka bentuknya kurang baik dibandingkan dengan anak-anak yang suka berolahraga daripada anak-anak usia pertengahan tahun. Mengapa anak-anak tersebut sangat jelek bentuk jasmaninya? Hal ini disebabkan mereka kurang aktif berolahraga, dan hanya setengah dari kelas mereka yang mengikuti pendidikan jasmani di sekolah dan hanya sebagian kecil yang suka berolahraga secara individual, misalnya berenang, senam, lari, berjalan kaki atau bersepeda. Sedangkan sebagian besar menghabiskan waktunya untuk menonton program TV di rumah. Hanya mereka yang aktif dalam perkumpulan olahraga secara kelompok atau tim yang memiiiki bentuk rubuh yang baik dan sehat.
4. Definisi Remaja
Dalam berbagai buku psikologi terdapat perbedaan pendapat tentang remaja namun pada intinya mempunyai pengertian yang hampir sama. Penggunaan istilah untuk menyebutkan masa peralihan masa anak dengan dewasa, ada yang menggunakan istilah puberty (inggris) puberteit (Belanda), pubertasi (latin), yang berarti kedewasaan yang dilandasi sifat dan tanda-tanda kelaki-lakian dan keperempuanan. Ada pula yang menyebutkan istilah adulescento (latin) yaitu masa muda. Istilah pubercense yang berasal dari kata pubis yang dimaksud dengan pubishair atau mulai tumbuhnya rambut di sekitar kemaluan. Istilah yang dipakai di Indonesia para ahli psikologi juga bermacam-macam pendapat tentang definisi remaja. Disini dapat diajukan batasan remana adalah masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/fungsi untuk memasuki masa dewasa.
Menurut Sarlito (1991), tidak ada profil remaja Indonesia yang seragam dan berlaku secara nasional. Masalahnya adalah karena Indonesia terdiri dari berbagai suku, adat dan tingkatan sosial ekonomi, maupun pendidikan. Sebagai pedoman umum remaja di Indonesia dapat digunakan batasan usia 11 – 24 tahun dan belum menikah. (Sunarto : 1998 : 56) Batasan usia 11 – 24 tersebut didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
1. Usia 11 tahun adalah usia dimana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai tampak (criteria fisik)
2. Usia 11 tahun dianggap oleh masyarakat Indonesia sebagai masa akil balig, baik menurut adat maupun agama, sehingga mereka tidak diperlakukan sebagai anak-anak. (kriteria sosial )
3. Pada usia tersebut mulai ada tanda – tanda penyempurnaan perkembangan jiwa seperti tercapainya identitas (ego identity), tercapainya fase genital dari perkembangan kognitif maupun moral.
4. Batas usia 24 merupakan batas maksimal, yaitu untuk memberikan peluang bagi mereka kriteria sampai pada usia tersebut masih menggantungkan diri pada orang lain, belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa (secara tradisi)
5. Status perkawinan sangat menentukan, karena arti perkawinan masih sangat penting di masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Seorang kriteria sudah menikah diusia berapapun dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa.
Batasan usia diatas adalah sebagian pendapat dari berbagai pendapat yang dikemukakan oleh beberapa ahli psikologi, pendapat lain tentang batasan usia remaja dikemukakan oleh Hurlock (1964) bahwa batasan usia remaja itu antara 13 sampai 21 tahun, yang terbagi menjadi dua yaitu ; remaja awal usia 13 – 14 tahun, dan remaja akhir usia 17 – 21 tahun. Sedangkan WHO memberikan batasan usia remaja usia 19 – 20 tahun. WHO menyatakan walaupun definisi remaja utamanya didasarkan pada usia kesuburan (fertilitas) wanita, namun batasan itu juga berlaku pada remaja pria, dan WHO membagi kurun usia dalam dua bagian yaitu remaja awal 10 – 14 tahun dan remaja akhir 15 – 20 tahun.
5. Perubahan Fisik Selama Masa Remaja
Dengan berkurangnya perubahan fisik kecanggungan pada masa puber dan awal masa remaja pada umunya menghilang, karena remaja yang lebih besar sudah mempunyai waktu tertentu untuk mengawasi tubuhnya yang bertambah besar. Mereka juga terdorong untuk menggunakan kekuatan yang diperoleh dan selanjutnya merupakan bantuan untuk mengatasi kecanggungan yang timbul kemudian.
Karena kekuatan mengikuti pertumbuhan otot, anak laki-laki pada umumnya menunjukkan kekuatan yang terbesar pada usia 14 tahun, sedangkan anak perempuan menunjukkan kemajuan pada usia ini dan kemudian ditinggalkan karena perubahan minat lebih dari pada kurangnya kemampuan.
Perubahan fisik selama masa remaja dibagi menjadi beberapa tahap :
A. Perubahan Eksternal
Perubahan yang terjadi dan dapat dilihat pada fisik luar anak. Perubahan tersebut ialah :
1) Tinggi Badan
Rata-rata anak perempuan mencapai tinggi matang pada usia antara tujuh belas dan delapan belas tahun, rata-rata anak laki-laki kira-kira setahun setelahnya.
Perubahan tinggi badan remaja dipengaruhi asupan makanan yang diberikan, pada anak yang diberikan imunisasi pada masa bayi cenderung lebih tinggi dari pada anak yang tidak mendapatkan imunisasi. Anak yang tidak diberikan imunisasi lebih banyak menderita sakit sehingga pertumbuhannya terhambat.
2) Berat Badan
Perubahan berat badan mengikuti jadwal yang sama dengan perubahan tinggi badan, perubahan berat badan terjadi akibat penyebaran lemak pada bagian-bagian tubuh yang hanya mengandung sedikit lemak atau bahkan tidak mengandung lemak. Ketidak seimbangan perubahan tinggi badan dengan berat badan menimbulkan ketidak idealan badan anak, jika perubahan tinggi badan lebih cepat dari berat badan, maka bentuk tubuh anak menjadi jangkung (tinggi kurus), sedangkan jika perubahan berat badan lebih cepat dari perubahan tinggi badan, maka bentuk tubuh anak menjadi gemuk gilik / gembrot (gemuk pendek).
3) Proporsi Tubuh
Berbagai anggota tubuh lambat laun, mencapai perbandingan yang tubuh yang baik. Misalnya badan melebar dan memanjang sehingga anggota badan tidak lagi kelihatan terlalu pandang.
4) Organ Seks
Baik laki-laki maupun perempuan organ seks mengalami ukuran matang pada akhir masa remaja, tetapi fungsinya belum matang sampai beberapa tahun kemudian.
5) Ciri – ciri Seks Sekunder
Ciri – ciri seks sekunder yang utama, perkembangannya matang pada masa akhir masa remaja. Ciri sekunder tersebut antara lain ditandai dengan tumbunya kumis dan jakun pada laki-laki sedangkan pada wanita ditanda dengan membesarnya payudara.
B. Perubahan Internal
Perubahan yang terjadi dalam organ dalam tubuh remaja dan tidak tampak dari luar. Perubahan ini nantinya sangat mempengaruhi kepribadian remaja. Perubahan tersebut adalah :
1. Sistem Pencernaan
Perut menjadi lebih panjang dan tidak lagi terlampau berbentuk pipa, usus bertambah panjang dan bertambah besar, otot-oto di perut dan dinding-dinding usus menjadi lebih tebal dan kuat, hati bertambah berat dan kerongkongan bertambah panjang.
2. Sistem Peredaran Darah
Jantung tumbuh pesat selama masa remaja, pada usia tujuh belas atau delapan belas, beratnya dua belas kali berat pada waktu lahir. Panjang dan tebal dinding pembuluh darah meningkat dan mencapai tingkat kematangan bilamana jantung sudah matang.
3. Sistem Pernafasan
Kapasitas paru-paru anak perempuan hampir matang pada usia tujuh belas tahun ; anak laki-laki mencapat tingkat kematangan baru beberapa tahun kemudian.
4. Sistem Endokrin
Kegiatan gonad yang meningkat pada masa puber menyebabkan ketidak seimbangan sementara dari seluruh system endokrin pada masa awal puber. Kelenjar-kelenjar seks berkembang pesat dan berfungsi, meskipun belum mencapai ukuran yang matang sampai akhir masa remaja atau awal masa dewasa
5. Jaringan Tubuh
Perkembangan kerangka berhenti rata-rata pada usia delapan belas tahun. Jaringan selain tulang, khususnya bagi perkembangan otot, terus berkembang sampai tulang mencapai ukuran yang matang.
C. Kondisi – Kondisi yang Mempengaruhi Pertumbuhan Fisik Remaja
Pertumbuhan fisik erat hubungannya dengan kondisi remaja. Kondisi yang baik berdampak baik pada pertumbuhan fisik remaja, demikian pula sebaliknya. Adapun kondisi-kondisi yang mempengaruhi sebagai berikut :
1. Pengaruh Keluarga
Pengaruh keluarga meliputi faktor keturunan maupun faktor lingkungan. Karena faktor keturunan seorang anak dapat lebih tinggi atau panjang dari anak lainnya, sehingga ia lebih berat tubuhnya, jika ayah dan ibunya atau kakeknya tinggi dan panjang. Faktor lingkungan akan membantu menentukan tercapai tidaknya perwujudan potensi keturunan yang dibawa dari orang tuanya.
2. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan akan membantu menentukan tercapai tidaknya perwujudan potensi keturunan yang dibawa orangtuanya. Lingkungan juga dapat memberikan pengaruh pada remaja sedemikian rupa sehingga menghambat atau meampercepat potensi untuk pertumbuhan dimasa remaja.
3. Pengaruh Gizi
Anak yang mendapatkan gizi cukup biasanya akan lebih tinggi tubuhnya dan sedikit lebih cepat mencapai taraf dewasa dibadingkan dengan mereka yang tidak mendapatkan gizi cukup. Lingkungan juga dapat memberikan pengaruh pada remaja sedemikian rupa sehingga menghambat atau mempercepat potensi untuk pertumbuhan dimasa remaja.
3. Gangguan Emosional
Anak yang sering mengalami gangguan emosional akan menyebabkan terbentuknya steroid adrenal yang berlebihan dan ini akan membawa akibat berkurangnya pembentukan hormon pertumbuhan di kelenjar pituitary. Bila terjadi hal demikian pertumbuhan awal remajanya terhambat dan tidak tercapai berat tubuh yang seharusnya.
4. Jenis Kelamin
Anak laki cenderung lebih tinggi dan lebih berat dari pada anak perempuan, kecuali pada usia 12 – 15 tahun. Anak perempuan baisanya akan sedikit lebih tinggi dan lebih berat dari pada laki-laki-laki. Hal ini terjadi karena bentuk tulang dan otot pada anak laki-laki berbeda dengan perempuan. Anak perempuan lebih cepat kematangannya dari pada laki-laki .
5. Status Sosial Ekonomi
Anak yang berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi rendah, cenderung lebih kecil dari pada anak yang bersal dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah.
6. Kesehatan
Kesehatan amat berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik remaja. Remaja yang berbadan sehat dan jarang sakit, biasanya memiliki tubuh yang lebih tinggi dan berat disbanding yang sering sakit.
7. Pengaruh Bentuk Tubuh
Perubahan psikologis muncul antara lain disebabkan oleh perubahan-perubahan fisik. Diantara perubahan fisik yang sangat berpengaruh adalah ; pertumbuhan tubuh (badan makin panjang dan tinggi), mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada perempuan dan "mimpi pertama" pada anak laki-laki ), dan tanda-tanda kelamin kedua yang tumbuh.
D. Dampak Pertumbuhan Fisik terhadap Kondisi Psikologis Remaja
Pertumbuhan fisik yang sangat pesat pada masa remaja awal ternyata berdampak pada kondisi psikologis remaja, baik putri maupun putra. Canggung, malu, kecewa, dll. adalah perasaan yang umumnya muncul pada saat itu.
Hampir semua remaja memperhatikan perubahan pada tubuh serta penampilannya. Perubahan fisik dan perhatian remaja berpengaruh pada citra jasmani (body image) dan kepercayaan dirinya (self-esteem).
Ada tiga jenis bangun tubuh yang menggambarkan tentang citra jasmani, yaitu endomorfik, mesomorfik dan ektomorfik. Endomorfik banyak lemak sedikit otot (padded). Ektomorfik sedikit lemak sedikit otot (slender). Mesomorfik sedikit lemak banyak otot (muscular).

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Pertumbuhan fisik adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Perubahan fisik remaja tersebut bukan saja menyangkut bertambahnya ukuran tubuh dan berubahnya proporsi tubuh, melainkan juga meliputi perubahan ciri-ciri yang terdapat pada kelamin utama dan kedua. Baik laki-laki maupun perempuan perubahan fisik mengikuti urutan-urutan tertentu.
Kondisi yang mempengaruhi perkembangan remaja adalah ; pengaruh keluarga, pengaruh gizi, gangguan emosional, jenis kelamin, status sosial ekonomi, kesehatan, dan pengaruh bentuk tubuh. Disamping itu pengaruh lingkungan juga mempengaruhi perkembangan fisik remaja.





DAFTAR PUSTAKA
Makmun Syamsuddin, Abin. 2007. Psykologi Kependidikan Perangkat System Pengajaran Modul. Bandung : Rosdakarya.
Najati. Muhammad Utsman. 2004. Psykologi dalam Perspektif Hadits. Jakarta : Pustaka Al Husna Baru.
Sobur. Alex .2003. Psykologi Umum. Bandung : Pustaka Setia
Sunarto. Ny. Hartono Agung ( 1999 ) Perkembangan Peserta Didik. Jakarta. Rineka Cipta
Surya Brata. Sumadi ( 2002 ). Psykologi Pendidikan. Jakarta. Rajawali Pers
Syah. Muhibbin ( 1996 ) Psykologi Pendidikan suatu Pendekatan Baru. Bandung. Rosdakarya.
Syarifuddin Tatang ( 2006 ). Landasan Pendidikan. Bandung. UPI Pers
Yusuf Syamsu ( 2007 ) Psykologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung. Rosdakarya
Yusuf Syamsu. Juntika Nurihsan ( 2005 ) Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung. Rosdakarya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar